Selasa, 10 Maret 2020

Bagaimana Mendapatkan Generasi Sholeh/Sholehah





Sehebat apapun jabatan dunia seseorang, namun anak anaknya rusak maka kesedihan dan kegundahan serta amarah akan selalu menghantuinya. Harta dunia yang menumpuk di gudang dan deposito hanya akan menjadi ajang perebutan harta waris yang berakhir dengan permusuhan dan keterlantaran orang tua ketika anak anak yang di tinggalkan hanya berpakaian akhlak keburukan. Lalu, dimanakan kebahagiaan bagi kedua orang tua itu?

Pernikahan merupakan konsep ilahi yang telah Allah siapkan bagi hamba-hambaNya untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Pernikahan merupakan jalan tepat untuk menghadirkan generasi generasi yang sholeh dan sholehah. Prasyarat apakah yang di perlukan untuk menjadikan pernikahan sebagai sarana yg menghantarkan pada tujuan tersebut. sehingga kebahagian, dengan hadirnya generasi generasi yang sholeh atau sholehah bisa di dapatkan.

Berikut ini, merupan langkah langkah untuk untuk menghadirkan generasi yg sholeh/sholehah:
1. Memilih calon istri


 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ » .

 Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya, maka dahulukanlah yang (kuat) mempunyai agama, niscaya kamu akan beruntung.” HR. Bukhari dan Muslim.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ».  مسلم 1467
Dari "abdillah bin Amr Sesungguhnya Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasalam bersabda :"Dunia adalah perhiasan. dan sebaik baik perhiasan adalah perempuan yang sholihah. (H.R Muslim)
2. Memilih suami 
عنْ أَبِى حَاتِمٍ الْمُزَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ قَالَ « إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

Artinya: “Abu Hatim Al Mizany radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah datang kepada kalian siapa (lelaki) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian), jika tidak maka niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi”, mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, meskipun ia mempunyai sesuatu (aib), beliau bersabda: “Jika telah datang kepada kalian siapa (lelaki) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian)”, beliau mengatakan itu tiga kali. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di ddalam shahih At Tirmidzi, no. 1084.

3. Berkomitmen bahwa menikah merupakan ibada
Pernikahan dalam pandangan seorang mukmin merupakan ibadah yang menghantarkan diri dan keluarga untuk lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. sehingga seluruh alur kehidupan, baik dalam keadaan senang maupun susah akan menjadi jalan untuk selalu mendekat kepada Allah subhanahu Wata'ala. seorang istri akan fokus dan penuh ikhlas menjalankan fungsi sesuai juknis dari Rabnya. Begitu juga seorang suami akan fokus pada kewajibanya dan penuh tanggung jawab menjadi pemimpin yang akan membawa istri dan anak anaknya menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. 

Tidak akan sia-sia kelelahan seorang istri yang bangun pagi untuk mempersiapkan segala hal bagi suami dan anak anaknya. begitu seorang suami yang dengan semangat berangkat bekerja bermandikan keringat untuk memberikan sebaik baik rizqi bagi istri dan anak-anaknya.semakin banyak energi yang di keluarkan maka semakin besar pula pahalanya di sisi Allah subhanahu wata'ala. Disinilah pentingya suami dan istri menjadikan niat menjalin pernikahan hanya untuk Allah subhanahu wata'ala.

Corak pernikahan seperti ini tentu tidak akan di temukan dalam konsep tata nilai dunia barat. di mana hidup di pandang hanya sebatas panca indera duniawi yang terputus dari nilai nilai transendens. sehingga pernikahan menjadi tidak penting karna hanya akan menjadi beban yang sangat memberatkan.    


4. Banyak Berdoa untuk kebaikan istri, suami dan anak

Perbaikan pada diri istri dan anak ada dalam gengaman Allah subhanahu wata'ala. Namun Allah menjadikan usaha sebagai sebuah jalan untuk menjadi sebab datangnya perbaikan pada diri anggota keluarga. Sejarah telah mencatat adanya seorang anak yg kafir walupun bapaknya adalah orang yang beriman. Dan anaknya beriman sementara ayahnya adalah seorang kafir. dan Allah subhanahu wata'ala menjadikan do'a sebagai salah satu sebab yang mendatangkan perbaikan pada generasi. sebagaimana Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wasallama merupakan sebuah anugerah generasi sholihah bagi dunia karna sebab do'a Nabi Ibrahim 'alaihi wasallama. sementara jarak kurun waktu dari Nabi Ibrahim ke Nabi Muhammad adalah 3000 tahun. 

5. Menghadirkan rizqi yang halal bagi keluarga 
Rizqi yg haram akan memalingkan generasi dari ketaatan kepada Rabnya. Susah untuk menerima kebenaran serta senani\tiasa condong terhadap keburukan dan kenistaan. perbuatan dosa dengan menghadirkan rizqi yang haram akan merusak diri setiap manusia, merusak jasmani, rohani dan akal pikiran. 

Imam Syafi'i bersyair:

شَكَوتُ إِلى وَكيعٍ سوءَ حِفظي

فَأَرشَدَني إِلى تَركِ المَعاصي

وَأَخبَرَني بِأَنَّ العِلمَ نورٌ

وَنورُ اللَهِ لا يُهدى لِعاصي









Artinya: 
Aku mengadu kepada Waki' (guru Imam Syafi'i) tentang buruknya hafalanku
Ia menasehatiku agar aku meninggalkan maksiat
Ia menerangkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya 
Dan cahaya Allah tidak akan menerangi pelaku maksiat.
(Diwan As syafi'i, hal. 87)

Duhai alangkah ruginya, ketika hati hati generasi kita tidak terpancari cahaya Allah. kemana lagi kita kan mencari pelita penerang. 

Al Ghozali berkata,"Merupakan kebiasaan para istri kaum salaf pabila suami-suami mereka hendak keluar dari rumah mencari rizqi mereka berkata: ka,i ,a,[u bertahan menahan kelaparan, akan tetapi kami tidak mampu bertahan memakan neraka Allah", Ucapan ini di riwayatkan Al Ghozali, dan Ibnu Khalikan dan penulis kutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer yg di tulis oleh DR Erwandi TArmizi, MA, hal 36-37)


6. Suami istri tetap berbakti kepada kedua orang tuanya.
Agama ini bermuara pada akhlak. Bahkan tujuan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallama di utus ke dunia ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. dan akhlak yang sangat nampak adalah akhlak terhadap kedua orang tua. Bahkan Allah subhanahu wata'ala meletakan berbuat baik pada orang tua satu tingkat setelah menyembah Allah subhanahu wata'ala. 

 وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS Al Isra: 23)

Dan kedua orang tua adalah contoh bagi anak anaknya. Bagaimana anak kita akan berbakti kepada kedua orang tuanya ketika orang tua yang ada tidak menunjukan baktinya kepada keuda orang tuanya. 


Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat.  

Next

Related