IsuTerkini

Latest Post

Sabtu, 21 Maret 2020

MENYERAHKAN OTORITAS PADA AHLINYA




(khutbah Jum’at, 25 Rajab 1441 H)[1]
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً. أما بعد
Segala puji bagi Allah ta’ala. Dalam genggamanya seluruh makhluk baik di bumi dan di langit. Tidak kekuatan yang mampu menolak kehendaknya. Dan tak ada kekuatan pula yang mampu menghindar dari ketentuanya. Ya Allah kami bersaksi bahwa Enghkau adalah Tuhan kami. Tidak ada yang berhak di sembah kecuali hanya Engkau.
Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,  segenap keluarga dan sahabatnya, para pejuang yang gigih berjuang, serta pengikutnya yang istiqamah menegakkan sunnahnya hingga akhir jaman.
Senantiasa khatib menyampaikan wasiat kepada hadirin untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penghambaan diri kepada Allah ta’ala. Hanya kepada Allah kita beribadah dan hanya kepada Allah kita meminta pertolongan. Pada saat musibah yangterus menyebar ini, mari kita jadikan taqwa sebagai perisai diri. Jangan biarkan kekhawatiran merenggut tawakkal kita kepada Allah.
Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah.

Peradaban Islam adalah peradaban ilmu, sehingga Ulama – ulama Islam lebih mementingkan budaya ilmu dari pada budaya batu.[2] Maka jadilah Muslim yang dinamis dengan ilmu dan jangan keras seperti batu.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalla bersabda:
عن عبدالله بن عمرو بن العاص - رضي الله عنهما - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((إن الله لا يقبض العلم انتزاعًا ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يُبْقِ عالمًا اتَّخذ الناس رؤوسًا جهالاً، فسُئِلوا فأفتوا بغير علم؛ فضلوا وأضلوا))؛ متفق عليه.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggengam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggengam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan”. (Riwayat Al Bukhari)
            Hadist ini memberikan gambaran kepada kita akan munculnya musibah di cabutnya ilmu. Sehingga kebodohan meraja lela. Dan dampak buruknya adalah semakin nampaknya ketersesatan dalam memandang hidup dan kehidupan. Sehingga ketersesatan di anggap sebuah kebenaran dan sebaliknya.
Oleh karena itu, marilah kita menyandarkan cara merespon kondisi dengan menyandarkan pada Nasehat Ulama yang dalam keilmuanya dan orang orang yang ahli dalam bidangnya.

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (Al-Nahl:43)

Saat ini kita sedang berada dalam kondisi yang membutuhkan penyikapan dengan dengan benar. Berdasarkan release terbaru dari BNPB RI tanggal 19 maret, ada 309 positif corona, 25 orang meninggal dan 15 sembuh.
Per Kamis (19/3/2020)di Kompas.com, seperti dikutip dari Johns Hopkins University, total ada sebanyak 214.894 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Sementara itu, angka kematian sebanyak 8.732 orang dan pasien sembuh 83.313 orang. Berikut 10 negara dengan jumlah kasus terbanyak: China: 81.102 kasus, lebih dari 3.122 kematian. Italia: 35.713 kasus, 2.978 kematian Iran: 17.361 kasus, 1.135 kematian Spanyol: 13.910 kasus, 623 kematian Jerman: 12.327 kasus, 28 kematian Perancis: 9.052, 148 kematian Korea Selatan: 8.413 kasus, 84 kematian Amerika Serikat: 7.769 kasus, 55 kematian Swiss: 3.028 kasus, 28 kematian Inggris: 2.642 kasus, 71 kematian.
            Gubernur DKI Jakarta mengatakan “bahwa corona itu bukan hanya berbicara tentang penyakitnya tetapi berbicara tentang bagaimana wabah ini menyebar secara masif”Mari kita belajar dari Italia. Pada tanggal 20 februari hanya ada 4 kasus dalam 23 hari melonjak menjadi 21.000 lebih kasus. Ini terjadi karena mereka tidak melakukan kampanye serius”.
           Dalam sejarah Islampun pernah terjadi wabah tho’un (ini disebutkan dalam buku sirah amiril mukminiin “Umar ibn al khottab yg di tulis oleh ‘Ali Muhammad Muhammad Al Shalaby, pada halam 230),
            Ketika terjadi tha’un di negri syam banyak di antara para syahabat yang terdampak dengan tha’un dan ada yang meninggal. Di antara para shahabat yang terdampak adalah; Abu Ubaidah bin al Jarrah, Mu’az bin jabal, Yazin bin Abi Sufyan, Haris bin Hisyam (ada riwayat beliau meninggal di perang Yarmuk) Suhail bin ‘Amr. Dan wabah tha’un itu, dengan izin Allah, bisa berhenti dengan ide cemerlang ‘Amr bin ‘Ash. Beliau memberikan arahan kepada khalayak untuk menghindari percepatan penyebaran tha’un itu dengan melakukan social Distancing (saling menjauh satu dengan yg lainya menuju ke gunung gunung.
            Social distencing bukanlah sesuatu yang baru. Sehingga ketika pemerintah meliburkan anak anak sekolah , para mahasiswa, meminimalisir keramaian, meminimalisir pergerakan, bahkan mungkin juga sampai pada tahap zero movemen (menghentikan pergerakan/lockdown), maka kita harus mengikutinya.
            Berikut ini adalah beberapa fatwa ulama dan Surat edaran dan Perrnyataan dari Pemerintah menyikapi firus covid-19;
1.       Fatwa nomor 247 Kerajaan Arab Saudi, tanggal 22 Rajab 1441 H. Yang berisi; penghentian pelaksanaan sholat jumat, dan jama’ah di masjid, di tutupnya masjid dalam waktu waktu tertentu, di serukanya seruan Shollu fi buyutikum dll, mengambil tindakan hukum pada yang tidak mengindahkan hal hal di atas.
2.       Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 yang diterbitkan MUI pada Senin (16/3/2020) yang berisi 9 point.
3.       Dewan Senior Ulama al-Azhar, Mesir, telah mengeluarkan fatwa terkait shalat berjamaah di tengah mewabahnya virus corona. Ada tiga poin utama dari fatwa; a). Penangguhan sholat jumat dan jamaah dan di perboloehkanya muazzin membaca “shollu fi buyutikum”, b). wajibnya mengikuti arahahan lembaga kesehatan.
4.       Menteri kesehatan telah mengeluarkan Surat Edaran  nomor HK 02.01 tentang protocol Isolasi diri dalam penanganan korona.
5.       Bupati Tanggamus telah mengeluarkan Surat Pernyataan Siaga Darurat selam 14 hari. Terhitung mulai tanggal 18 sampai dengan 31 Maret 2020.
Maka Khotib kembali menekankan dan menghimbau, “Marilah kita bersama sama ikut berperan aktif dalam ikhtiyar menekan laju perkembangan menyebarnya covid-19. Dan kita berdoa kepada allah semoga Allah senantiasa melindungi kita dari penyebaran covid-19

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah ke II
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Jama’ah shalat Jum’at Rahimakumullah
Pada khutbah kedua ini khotib akan menyampaikan pesan Ulama tentang bagaimana menyikapi virus Corona:
1.      Mengimani dengan penuh akan qadho dan qadhar Allah.
!
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.(al-Taghobun:11)

“apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, Maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah Maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Fatir:2)

2.      Jaga ketaatan kepada Allah
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan, 'Pada suatu hari, aku pernah dibonceng di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudaratan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudaratan (bahaya) kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’” (HR at-Tirmidzi dan ia berkata hadis ini Hasan Shahih).

3.      Memaksimalkan ikhtiar untuk mendatangkan Pertolongan Allah.
حديث سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً ، لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذَلِكَ اليَوْمِ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ ) رواه البخاري في " صحيحه " (رقم/5445) ومسلم في " صحيحه " (رقم/2047) .
                                “Barang siapa pada waktu pagi setiap harinya memakan 7 butir kurma ajwa maka insyAllah akan terbebas dari gangguan sihir dan Racun”.
                   Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu 'Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba membaca di pagi dan sore hari
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ
“(Aku berlindung) dengan Nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu di bumi dan langit yang bisa membahayakan. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” sebanyak tiga kali (melainkan) tidak ada sesuatu yang membahayakannya.” (HR. Abu Dawud & Al-Tirmidzi, lafadz milik al-Tirmidzi)
عن أبي عبد اللَّه بن عابس الجهني: أن النبي صلّى اللَّه عليه وسلّم قال له :«يا ابن عابس ألا أدلك –  أو ألا أخبرك –  بأفضل ما يتعوذ به المتعوذون؟ قال: بلى يا رسول اللَّه قال : قل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس هاتان السورتان». رواه النسائي
Dari Abi Abdillah bin ‘Abis Al-Juhani, bahwasannya Nabi saw. bersabda kepadaku, “Wahai Ibnu Abis, maukah aku tunjukkan – maukah kamu aku kabarkan – paling afdhalnya sesuatu yang orang-orang yang meminta perlindungan dengannya?” Ibnu Abis berkata, “Mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “qul a’udzu birabbil falaq dan qul a’udzu birabbin nas, dua surah ini.”

4.      Jangan membuat hoax dan jangan terpengaruh dengan hoax.
قول ابن سرين الذي رواه الإمام مسلم في مقدمة صحيحه عن ابن سيرين رحمه الله قوله : " لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا : سموا لنا رجالكم ، فيُنْظَرُ إلى أهل السنة فيُؤْخذ حديثُهم ، ويُنْظَر إلى أهل البدعة فلا يؤخذ حديثهم "
“Perkataan Ibnu Sirin yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Mukaddimah Shohihnya. “Pada kehidupan masa sahabat mereka tidak banyak bertanya tentang sanad sebuah berita. Namun ketika terjadi fitnah, mereka berkata: Sebutkanlah dari mana sumber berita yang engkau dapatkan. Ketika sumber itu berasal dari ahli sunnah maka ambillah. Namun apabila berasal dari para pembuat berita tdk berdasar maka janganlah di hiraukan”
5.      Hadapilah musibah dengan kesabaran

155. dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Al Baqarah)
6.      Jadikanlah wabah yang sedang menimpa dunia ini semakin menyadarkan kita akan kelemahan diri. Dan seberat apapun musibah dunia yang mengenai kita, itu masih ringan dibandingkan dengan musibah rusaknya agama kita. 
Karena betapapun sehat kondisi kita, namun iman rusak maka kesehatanya akan menjadi nikmat yang akan di mintai pertanggung jawaban oleh Allah.
Dan seandainya fisik kita sakit atau bahkan meninggal, namun keimanan tetap melekat kuat dalam diri, maka sakit dan musibah yang menimpa akan menjadi bagian penghapus dosa dosa kita.

.اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات اللهم ادفع عناالغلآء والبلآء والوبآء والفحشاء والمنكر والسيوف المختلفة والشدآئد والمحن ماظهر منها ومابطن من بلدنا هذا خاصة ومن بلدان المسلمين عامة انك على كلى شيئ قدير ربناآتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.  
عباد الله, إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي, يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم واسألوه من فضله يعطكم واتقوه يجعل لكم من أمركم مخرجا, ولذكر الله أكبر
.  






[1] Khutbah ini di tulis oleh Fadhoil dan di sampaikan pada hari Jumat tanggal 25 Rajab 1441 H di masjid Al Munawarah Gisting.
[2] Adian Husaini, Pendidikan Islam (Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045) hal. 65

Selasa, 10 Maret 2020

Bagaimana Mendapatkan Generasi Sholeh/Sholehah





Sehebat apapun jabatan dunia seseorang, namun anak anaknya rusak maka kesedihan dan kegundahan serta amarah akan selalu menghantuinya. Harta dunia yang menumpuk di gudang dan deposito hanya akan menjadi ajang perebutan harta waris yang berakhir dengan permusuhan dan keterlantaran orang tua ketika anak anak yang di tinggalkan hanya berpakaian akhlak keburukan. Lalu, dimanakan kebahagiaan bagi kedua orang tua itu?

Pernikahan merupakan konsep ilahi yang telah Allah siapkan bagi hamba-hambaNya untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Pernikahan merupakan jalan tepat untuk menghadirkan generasi generasi yang sholeh dan sholehah. Prasyarat apakah yang di perlukan untuk menjadikan pernikahan sebagai sarana yg menghantarkan pada tujuan tersebut. sehingga kebahagian, dengan hadirnya generasi generasi yang sholeh atau sholehah bisa di dapatkan.

Berikut ini, merupan langkah langkah untuk untuk menghadirkan generasi yg sholeh/sholehah:
1. Memilih calon istri


 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ » .

 Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya, maka dahulukanlah yang (kuat) mempunyai agama, niscaya kamu akan beruntung.” HR. Bukhari dan Muslim.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ».  مسلم 1467
Dari "abdillah bin Amr Sesungguhnya Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasalam bersabda :"Dunia adalah perhiasan. dan sebaik baik perhiasan adalah perempuan yang sholihah. (H.R Muslim)
2. Memilih suami 
عنْ أَبِى حَاتِمٍ الْمُزَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ قَالَ « إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

Artinya: “Abu Hatim Al Mizany radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah datang kepada kalian siapa (lelaki) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian), jika tidak maka niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi”, mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, meskipun ia mempunyai sesuatu (aib), beliau bersabda: “Jika telah datang kepada kalian siapa (lelaki) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian)”, beliau mengatakan itu tiga kali. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di ddalam shahih At Tirmidzi, no. 1084.

3. Berkomitmen bahwa menikah merupakan ibada
Pernikahan dalam pandangan seorang mukmin merupakan ibadah yang menghantarkan diri dan keluarga untuk lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. sehingga seluruh alur kehidupan, baik dalam keadaan senang maupun susah akan menjadi jalan untuk selalu mendekat kepada Allah subhanahu Wata'ala. seorang istri akan fokus dan penuh ikhlas menjalankan fungsi sesuai juknis dari Rabnya. Begitu juga seorang suami akan fokus pada kewajibanya dan penuh tanggung jawab menjadi pemimpin yang akan membawa istri dan anak anaknya menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. 

Tidak akan sia-sia kelelahan seorang istri yang bangun pagi untuk mempersiapkan segala hal bagi suami dan anak anaknya. begitu seorang suami yang dengan semangat berangkat bekerja bermandikan keringat untuk memberikan sebaik baik rizqi bagi istri dan anak-anaknya.semakin banyak energi yang di keluarkan maka semakin besar pula pahalanya di sisi Allah subhanahu wata'ala. Disinilah pentingya suami dan istri menjadikan niat menjalin pernikahan hanya untuk Allah subhanahu wata'ala.

Corak pernikahan seperti ini tentu tidak akan di temukan dalam konsep tata nilai dunia barat. di mana hidup di pandang hanya sebatas panca indera duniawi yang terputus dari nilai nilai transendens. sehingga pernikahan menjadi tidak penting karna hanya akan menjadi beban yang sangat memberatkan.    


4. Banyak Berdoa untuk kebaikan istri, suami dan anak

Perbaikan pada diri istri dan anak ada dalam gengaman Allah subhanahu wata'ala. Namun Allah menjadikan usaha sebagai sebuah jalan untuk menjadi sebab datangnya perbaikan pada diri anggota keluarga. Sejarah telah mencatat adanya seorang anak yg kafir walupun bapaknya adalah orang yang beriman. Dan anaknya beriman sementara ayahnya adalah seorang kafir. dan Allah subhanahu wata'ala menjadikan do'a sebagai salah satu sebab yang mendatangkan perbaikan pada generasi. sebagaimana Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wasallama merupakan sebuah anugerah generasi sholihah bagi dunia karna sebab do'a Nabi Ibrahim 'alaihi wasallama. sementara jarak kurun waktu dari Nabi Ibrahim ke Nabi Muhammad adalah 3000 tahun. 

5. Menghadirkan rizqi yang halal bagi keluarga 
Rizqi yg haram akan memalingkan generasi dari ketaatan kepada Rabnya. Susah untuk menerima kebenaran serta senani\tiasa condong terhadap keburukan dan kenistaan. perbuatan dosa dengan menghadirkan rizqi yang haram akan merusak diri setiap manusia, merusak jasmani, rohani dan akal pikiran. 

Imam Syafi'i bersyair:

شَكَوتُ إِلى وَكيعٍ سوءَ حِفظي

فَأَرشَدَني إِلى تَركِ المَعاصي

وَأَخبَرَني بِأَنَّ العِلمَ نورٌ

وَنورُ اللَهِ لا يُهدى لِعاصي









Artinya: 
Aku mengadu kepada Waki' (guru Imam Syafi'i) tentang buruknya hafalanku
Ia menasehatiku agar aku meninggalkan maksiat
Ia menerangkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya 
Dan cahaya Allah tidak akan menerangi pelaku maksiat.
(Diwan As syafi'i, hal. 87)

Duhai alangkah ruginya, ketika hati hati generasi kita tidak terpancari cahaya Allah. kemana lagi kita kan mencari pelita penerang. 

Al Ghozali berkata,"Merupakan kebiasaan para istri kaum salaf pabila suami-suami mereka hendak keluar dari rumah mencari rizqi mereka berkata: ka,i ,a,[u bertahan menahan kelaparan, akan tetapi kami tidak mampu bertahan memakan neraka Allah", Ucapan ini di riwayatkan Al Ghozali, dan Ibnu Khalikan dan penulis kutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer yg di tulis oleh DR Erwandi TArmizi, MA, hal 36-37)


6. Suami istri tetap berbakti kepada kedua orang tuanya.
Agama ini bermuara pada akhlak. Bahkan tujuan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallama di utus ke dunia ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. dan akhlak yang sangat nampak adalah akhlak terhadap kedua orang tua. Bahkan Allah subhanahu wata'ala meletakan berbuat baik pada orang tua satu tingkat setelah menyembah Allah subhanahu wata'ala. 

 وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS Al Isra: 23)

Dan kedua orang tua adalah contoh bagi anak anaknya. Bagaimana anak kita akan berbakti kepada kedua orang tuanya ketika orang tua yang ada tidak menunjukan baktinya kepada keuda orang tuanya. 


Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat.  

Rabu, 04 Desember 2019

BLK SURAKARTA




 (Persembahan untuk teman temanku di BLK Komunitas)
BLK komunitas mempertemukan kami di BLK Surakarta
Garmen, PHP, Las Bahasa
Aceh, Lampung, Makasar, Cilacap, tuban NTB jogja
47 hari merasakan kembali asrama kampus penuh suka duka

            Soto Hj Fatimah, blossom, donatello, Angkringan
            Menjadi view merangkai kenangan
            Pasar klewer, kampung batik
            Menjadi moment menikmati solo di akhir pekan

47 hari, menghimpun luapan rindu keluarga
Frekwensi vidio call meningkat tajam memakan kuota
Menghitung hari menunggu jum’at 6 Desember
Penutupan ini, menjadi sirine penanda hitungan yang berakhir

            Dari kementerian Para instruktur, asesor dan semua insan BLK Surakarta
            Memfasilitasi,Mendampingi, mengarahkan dan mencerahkan
            Doa kami untuk mereka
Ya Allah BERIKNLAH MEREKA SEBESAR BESAR MANFAAT TERHADAP APA YG TELAH MEREKA BERIKAN

Ketidak disiplinan, rangkaian kata, gerak tubuh kadang tak terasa
melukai halusnya rasa dan merusak indahnya di dalam saudara
Permohonan maaf dengan tulus kami utarakan 
semoga kebersamaan ini melahirkan pencerahan


Moment pertemuan mengukir kenangan
Moment perpisahan menjadi curahan harapan
Fisik boleh jauh terpisah
Namun teruskan! silaturrahmi ilmiyyah.

Berbeda tempat namun satu
Berbeda bahasa namun satu
Berbeda budaya namun satu
Indonesia menunggu karyamu dalam BLK Komunitasmu



(05/12/19
Written By

FADHOIL


Minggu, 01 Desember 2019

SAYA RADIKAL




Kata radikal dalam kamus KBBI memiliki 3 makna:

1. Secara mendasar (sampai pada hal yg prinsip).
Contoh: perubahan yg radikal

2. Amat keras menuntut perubahan (undang undang, perintah) politik

3.  Maju dalam berfikir atau bertindak.

Kalau kata radikal di kaitkan dengan makna pada nomor 1 dan 3 maka, saya menjadi bagian dan masuk dalam kelompok radikal.

Saya harus radikal dalam menerapkan nilai nilai islam dalam diri dan keluarga.

Saya harus radikal dalam menerapkan konsep konsep islam dalam pendidikan diri, keluarga dan siapapun yg ada di bawah tanggung jawab saya.

Saya adalah orang yg radikal dan tidak ingin menjadi orang yg letoy, tdk disiplin, berfikir pendek, bodoh dan seabrek sifat nyaman dng ketertinggalan.

Sekali lagi, saksikanlah! Bahwa saya pengamut paham RADIKALISME dalam konteks tersebut di atas

 Kalau di kaitkan dng makna kata yg ke 2 maka, saya merupakan tipologi yg tdk rela kalau bangsa ini di rusak. Saya ingin ada perubahan yg RADIKAL. Walaupun saya yakin fitrah perubahan itu adalah secara gradual.

Menginginkan perubahan secara radikal tentu di perbolehkan. Karna tanpa menjadi RADIKAL maka kita akan mlempem seperti krupuk ketika terkena hujan.

Namun dalam aspek teknis tentu saya setuju dengan adanya gradualisasi perubahan tersistem.

Dengan uraian di atas saya ingin menekankan kembali bahwa saya radikal

seandainya dengan uraian di atas tetap di kategorikan sebagai RADIKALIS/TERORIS/JIHADIST dsb maka, saksikan bahwa saya adalah *TERORIST/RADIKALIST/JIHADIST


#selalu menuduh dan menjuluki buruk adalah watak para kafir quraisy penentang dakwah NABI MUHAMMAD SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM

30 November 2019
written by FADHOIL

Surakarta, Solo

Sabtu, 23 November 2019

PHIWM FOCUS KE 12



(Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah)
Rewritten by Fadhoil

A. KEHIDUPAN KELUARGA

1. Kedudukan keluarga
1.1. Keluarga merupakan tiang utama kehidupan umat dan bangsa sebagai tempat sosialisasi nilai nilai yg paling intensif dan menentukan. Karena itu menjadi kewajibam setiap anggota Muhammadiyah untuk mewujudkan kehidupan keluarga yg sakinah, mawaddah, warahmah yang dikenal dngan keluarga sakinah*_.

Penjelasan

Perzinahan, perselingkuhan dan segala bentuk kemaksiatan dalam rumah tangga akan menghilangkan aspek sakinah(ketenangan), mawaddah(saling cinta), rahmah(saling sayang). Sebaliknya yg akan muncul adalah ketidak tenangan, saling curiga, saling menyakiti

Maka jagalah keluarga sebagai pilar untuk melahirkan generasi generasi yg tenang jiwanya, pribadi yg penuh cinta terhadap diri dan lingkunganya, serta generasi yg menyayangi diri dan sesamanya

Kita di hadapkan pada musibah munculnya generasi yg membuat mata yg melihatnya pedih dan resah. Generasi yg jiwanya sangat labil, mulut dan prilakunya kasar serta cenderung menjadi problem maker ketimbamg problem solver.

Semua berawal dari hilangya pilar utama penjaga keluarga yaitu kedua orang tuanya.

Maka jadilah para suami sebagai qiwam(penjaga, leader dll).

Maka jadilah para suami sebagai rijal yaitu para lelaki yg pantas disebut sebagai lelaki. Para lelaki yg konsiaten menegakkan sholat berjamaah, janganlah menjadi dayyus(para suami yg masa bodoh ketika kemaksiatan merenggut dan masuk kedalam rumahnya)

Marilah kita perbaiki rumah tangga kita dengan menjadikan diri kita sebagi contoh dan tauladan bagi anak anak kita.

Di GROUP ini ada 154 anggota. Maka apabila setiap kita, dng semangat pengabdian kepad Allah, menjaga rumah tangga kita maka akan muncul gelombang perubahan yg dahsyat.

Adakalanya kita perlu berdakwah tinggi melangit.  Namun, kita harun menengok orang org terdekat kita yaitu keluarga.

Jadikanlah istri atau suami, orang pertama yg merasakan keindahan akhlak, cinta dan kasih sayang kita.

Karna akhlak yg baik yg di rasakan orang lain namun keluarganya merasakan kepedihan akibat buruknya perangainya, merupakan sebuah kepura puraan dalam membamgun akhlaknya.

Wahai istri dan anak anaku, doakan abimu di berikan kekuatan oleh Allah dalam memperbaiki diri untuk membimbing kalian merengkuh kebahagiaan bersama di dunia dan akhirat.

Wahai istri dan anak anaku, abimu mencintaimu dan menyayangimu💝💘

Sumber : Pedoman Hidup Islami Warga Muhmadiyah, hal. 16

surakarta, solo

Sabtu, 09 November 2019

Pendidikan Sesuai Fitrah

Tanyakanlah kepada para pelajar kita, ”Sebutkan contoh satu negara maju!” Apa jawaban yang keluar dari mulut mereka? Adakah mereka menyebut bahwa negara terbaik dan termaju adalah negara Madinah di masa Nabi Muhammad saw! Beliau pernah bersabda, bahwa zaman terbaik adalah zamanku.
Anak-anak sekolah sudah dijejali informasi bahwa negara maju adalah negara yang pendapatan perkapitanya tinggi, dan ukuran-ukuran materi lainnya. Tidak ada kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia untuk menentukan kemajuan suatu bangsa! Padahal, QS 7:96 sudah menentukan, bahwa jika penduduk satu negeri beriman dan bertaqwa, pasti Allah kucurkan berkah dari langit dan dari bumi.

Begitu banyak anak-anak yang menghafal al-Quran, tetapi mereka tidak paham bahwa Nabi Muhammad saw memiliki prestasi peradaban yang sangat tinggi dalam membangun satu negara pertama yang punya konstitusi tertulis. Beliau saw juga berhasil mewujudkan masyarakat pembelajar, masyarakat benci miras, dan nyaris bebas korupsi. Sebab, informasi yang mereka terima tentang kriteria kemajuan satu negara selama ini adalah versi sekuler dan materialis!
Anak-anak pelajar juga dijejali dengan informasi bahwa manusia itu merupakan tahapan tertinggi dari makhluk bernama Hominid, sebangsa monyet. Karena merupakan jenis binatang, maka manusia pun – kata mereka -- memiliki kebutuhan primer berupa sandang, papan, dan perumahan. Tidak ada kebutuhan primer berupa ibadah dan berzikir kepada Allah! 

 Apa akibatnya? Jangan heran, jika begitu banyak pelajar yang memiliki persepsi bahwa tujuan hidup itu adalah untuk cari makan (liya’kuluun). Bahwa,  sukses itu adalah sukses materi. Bahwa sukses yang utama adalah sukses di dunia; bukan sukses di akhirat. Akhirnya, mereka didorong untuk menjadi pemuja jabatan, pemuja kekayaan, pemuja kecantikan, kepopuleran, dan sebagainya.

Mereka dilupakan oleh tipudaya dunia, sehingga tidak menjadikan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat sebagai tujuan hidup yang utama. Begitu deras informasi dalam dunia pendidikan yang mengarahkan mereka untuk berpikir secara empiris-rasional, melupakan ilmu wahyu (revealed knowledge), sehingga memunculkan sikap cinta dunia dan melupakan akhirat!
Mengapa begitu banyak kasus pelecehan terhadap guru terjadi di dunia pendidikan? Tak perlu heran, sebab para pelajar dan wali murid mendapatkan informasi bahwa guru adalah ”tukang ngajar bayaran”.  Dan dunia pendidikan menempatkan murid sebagai konsumen! Konsumen adalah raja! Karena merekalah yang membayari sekolah dan guru-gurunya. Jadi, wali murid dan murid merasa berhak mengatur dan mendiktekan kemauan mereka kepada para guru!
Padahal, seharusnya, kedudukan guru adalah mujahid intelektual! Guru adalah pejuang intelektual. Guru bukan ”tukang ngajar bayaran”. Tapi, itu pun tergantung pada cara lembaga pendidikan memandang dan memperlakukan guru-guru mereka; dan juga tergantung pada guru itu sendiri. Apakah dia memahami dirinya sebagai pejuang intelektual atau ”tukang ngajar bayaran”?

Contoh terakhir, kini beredar begitu banyak daftar ranking sekolah dan universitas terbaik. Anehnya, banyak kaum muslim terpelajar menerima daftar ranking sekolah dan universitas itu sebagai kebenaran. Padahal, kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia, tidak dimasukkan dalam kriteria penilaian ranking sekolah atau kampus tersebut.

Setiap muslim, seyogyanya memiliki cara pandang Islami terhadap realitas (Islamic Worldview). Al-Quran sudah mengajarkan, bahwa orang paling mulia adalah yang bertaqwa. Sekaya apa pun seorang pelacur atau koruptor, sepopuler apa pun pelaku maksiyat,  dan setinggi apa pun jabatan orang kafir, fasik dan zalim, derajat mereka tidak lebih tinggi dari seorang guru ngaji yang ikhlas dan soleh di pelosok-pelosok kampung!

Bagi seorang muslim, sekolah dan kampus terbaik adalah yang mendidik para murid dan mahasiswanya menjadi manusia beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan pejuang penegak kebenaran di tengah masyarakat! Itu kriteria utama. Yang lain adalah tambahan.

Maka, sungguh sangat bermakna pesan KH Imam Zarkasyi, pendiri pesantren Gontor Ponorogo: “Kalian akan kami didik menjadi kader-kader pemimpin dan juga belajar menjadi orang besar. Apa itu orang besar? Apakah mereka yang jadi pengusaha besar? Atau jadi ketua partai; ketua oramas Islam yang besar? Bukan itu yang saya maksud orang besar. Orang besar itu adalah mereka yang lulus dan keluar dari pesantren ini kemudian dengan ikhlas mengajarkan ilmunya kepada orang-orang di pelosok-pelosok desa, sampai di kaki-kaki gunung, di mana pun mereka berada, di bukit-bukit, atau di kolong-kolong jembatan sekali pun. Itu yang saya maksud orang besar.

Maka, kita ingat sekali lagi peringatan Allah SWT: “Dan demikianlah kami jadikan untuk setiap nabi ada musuh, yaitu setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin, yang mereka membisikkan kata-kata indah (zukhrufal qauli) untuk menipu manusia!” (QS 6:112).

Perintah Nabi Muhammad saw sangatlah jelas: ”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim!”  Maksudnya, carilah ilmu yang bermanfaat (al-Ilmu al-nafi’)!  Agar mendapat ilmu yang bermanfaat; dan agar  tidak tertipu oleh informasi menyesatkan, carilah ilmu yang benar, dengan cara yang benar, dan kepada guru-guru yang benar pula!
Sebab, berguru itu belajar adab dan ilmu kepada guru, bukan kepada tembok! 

(Depok, 27 Februari 2019).
di Kopi dari tulisan DR ADIAN HUSAINI

Kamis, 31 Oktober 2019

PHIWM FOCUS, Sejenak Membaca Pesan dari Kekayaan Hasanah Konsep Muhammadiyah

fadhoil.com

Upaya mewujudkan Islam dalam kehidupan di lakukan melalui dakwah itu ialah; mengajak kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mengajak untuk beriman guna mewujudkan ummat yg sebaik baiknya.

Berdasarkan pada keyakinan,pemahaman, dan penghayatan Islam yg mendalam dan menyeluruh itu maka bagi segenap warga Muhammadiyah merupakan suatu kewajiban yg mutlak untuk melaksanakan dan mengamalkan Islam dalam seluruh kehidupan dengan jalan mempraktekan hidup Islami dalam lingkungan sendiri sebelum mendakwahkan Islam kepada pihak lain.

Sumber : Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, hal 12
oleh Fadhoil